Tertampar Buku Yuk Jadi Orangtua Shalih | Featured

[Oleh: Dyah Prameswarie]

Kullu mauluudin yuuladu ‘alal fitrah. Fa abawaahu …

Setiap anak lahir dengan fitrah, bergantung

orangtuanya bagaimana ia dibentuk.

Buku ini datang tepat sehari ketika saya menulis status di Facebook. Saya lupa tepatnya, yang saya ingat adalah bahwa hari itu bungsu saya yang berusia  4 tahun, Altaz, sedang berulah. Berkali-kali ia membuat rumah berantakan, mogok tidur siang, dan (ketika akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke dapur membuat kue) ia dengan senang hati menghancurkan kue tersebut. What a day!

Seperti judul di atas, membaca judulnya saja membuat saya tertampar. Yang ada di pikiran saya ketika menerima buku ini adalah, “Errrr, ayolah, buku parenting?” *dengan wajah datar*

Bukannya saya alergi buku parenting. Saya sangat-sangat memilih buku parenting yang akan saya baca. Kapok dengan buku parenting yang isinya menggurui, bukan memberi contoh. Bosan dengan buku parenting yang bahasanya resmi dan berat seolah-olah buku tersebut suci dan berasal dari abad sekian sebelum Masehi.

Tapi saya teguhkan hati untuk membaca buku ini. Apalagi ketika membaca kalimat berikut,

Menjadi orangtua shalih memang tidak mudah, tapi bukan berarti mustahil.  Ayah-Bunda memiliki lima karunia dari Allah: karunia belajar, karunia konsistensi, karunia kiblat, karunia mendengarkan dan karunia al-shaaffaat. (Halaman 31)

Saya jadi punya semangat lagi untuk segera memperbaiki diri. Eh, bukan hanya memperbaiki diri, tapi intropeksi terlebih dahulu. Pun menggunakan lima karunia dari Allah tadi dengan baik, karena buku ini mengulasnya dalam bab-bab yang mudah dicerna oleh orangtua.

Yuk Jadi Orangtua Shalih | Cover

Penulis buku yang dikenal sebagai Abah Ihsan, menuliskan tujuh langkah untuk memulai perubahan agar kelima karunia tadi berfungsi dengan baik.

  1. Intropeksi. Untuk membantu orangtua melakukan intropeksi, penulis membuat tabel yang memuat daftar sikap yang biasa dan sering dilakukan orangtua, pesan yang disampaikan tanpa disadari dan akibatnya terhadap kejiwaan anak. Percaya deh, dari 27 contoh yang ditulis, banyak yang membuat saya membatin, “Argh, ini gue, nih.” atau “Duuh, ternyata akibatnya begitu ya. Pantas Al jadi bla bla bla.”
  2. Menggalang Kesatuan Orangtua. Ini juga tak kalah pentingnya buat kami (saya dan suami). Sering kali kami tidak kompak. Daaan akibatnya fatal. Jadi, Ayah-Bunda harus jadi tim, sebuah kesatuan. Baiklah!
  3. Belajar Bersama. Betul, sejak Al hadir, kami bukan lagi trial and error tapi sengaja belajar. Kembali lagi jadi orangtua baru.
  4. Buatlah Jurnal. Siapa sangka bahwa menjadi orangtua juga membutuhkan jurnal.
  5. Lakukan Curah Gagasan. Abah Ihsan juga mencontohkan sebuah tabel untuk mengetahui  perilaku anak dan peran Ayah-Bunda.
  6. Lakukan Evaluasi Berkala. Ini juga sering kali missed ya? Ternyata menjadi orangtua juga perlu mengevaluasi jurnal dan tabel-tabel yang memuat perilaku kita tadi.

Anak Sujud | Image

Rayakan Keberhasilan Sekecil Apa pun.

Itu sajakah yang didapat dari buku ini? Hmm, nggak dong. Semakin dibaca, saya justru semakin tertampar sekaligus belajar hal baru. Ditulis dengan gaya bahasa ringan dan tak menggurui, beberapa halaman buku ini kami baca berdua. Lalu kami saling intropeksi diri sendiri. Suami saya berkali-kali mengguman, “Naah, itu aku sering kayak gitu. Ternyata nggak boleh ya?”

Iya, kalimat-kalimat sejenis keluar dari mulut kami tatkala membaca berbagai contoh kasus yang bertebaram di buku ini. Setiap kasus ditandai dengan mana perilaku orangtua biasa dan mana yang menjadi kebiasaan orangtua shalih.

Seperti contoh kasus di halaman 71. Di mana seorang anak berusaha memakai sepatu sendiri. Setelah sekian lama mencoba, anak tersebut berhasil memakai sepatu di kaki kanan dan sandal di kaki kiri.

Mau tahu bagaimana reaksi orangtua bisa? Seperti ini, “Wah, kamu salah pakai. Satu sepatu, satu sandal. Ayo dilepas, ganti dengan sepatu sebelahnya, sini Bunda pakaikan. (Dalam sekali bicara, orangtua mencela, menunjukkan kesalahan, memerintah, memutuskan untuk anak dan mengambil alih). → Hayoo, siapa yang sering seperti ini? Sayaaa! *bukan bangga, tapi malu*

Lalu, bagaimana reaksi orangtua yang shalih? Ups, saya nggak mau terlalu banyak spoiler di sini. Mending segera beli bukunya, baca lalu praktekkan.

Judul buku: YUK, JADI ORANGTUA SHALIH! Sebelum Meminta Anak Shalih
Penulis: Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari
Penyunting: Yadi Saeful Hidayat & Budhyastuti R.H.
Penerbit: Mizania
Tahun terbit: 2014
Tebal buku: 175 halaman
ISBN: 978-602-1337-52-3

Tulisan ini disalin dari blog pribadi Dyah Prameswarie, cek blog Dyah melalui tautan di bawah ini:

Tertampar Buku YUK, JADI ORANGTUA SHALIH! (#BookReview)

1,707 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Bagikan :
Tag pada: