Peserta Workshop Content Writing The Jakarta Post Writing Center bersama writing instructor, Jet Damazo.
Foto: Dokumentasi The Jakarta Post Writing Center.

Memangnya bisa serangkaian tulisan memiliki daya tarik dan nilai jual tersendiri? Jawabannya ada di dalam the art of content writing.

 

Tulisan kini menjadi komoditas utama dalam dunia digital. Konten tulisan dituntut untuk bisa mencakup semua informasi yang dibutuhkan secara singkat, jelas, dan padat, apalagi jika dipublikasikan secara daring.

 

Pada 16 April 2018, The Jakarta Post Writing Center mengadakan One-Day Workshop: Content Writing. Kegiatan yang telah diselenggarakan secara rutin oleh Jakarta Post ini berlangsung dari pukul 9 pagi sampai 5 sore dan meliputi 3 agenda: presentasi singkat dan mendalam tentang content writing oleh instruktur asal Filipina, Jet Damazo, diskusi grup, dan tugas individu yang semuanya dilakukan dalam bahasa Inggris.

 

Dibuka bagi umum, peserta yang hadir kebanyakan berasal dari berbagai latar belakang profesi yang tentunya mengharuskan mereka berkutat dengan dunia penulisan dan konten digital. Seperti staf media sosial dari agensi periklanan, web content developer dari perusahaan IT, staf public relation dari firma konsultan, redaksi penerbitan buku, hingga blogger, yang ingin mengembangkan kemampuan dan kepekaan dalam menulis.

Kirim Naskah Ruang Redaksi

twitter.com/jetdsantos

 

Dalam materi yang disampaikan Jet Damazo, menulis adalah kegiatan mudah tapi kompleks. Mudah karena yang kita perlukan hanyalah menuliskan apa yang kita pikirkan atau rasakan.

 

Kompleks karena dalam menulis banyak hal yang ternyata harus diperhatikan, terutama untuk konten digital, seperti jumlah kata, keywords untuk kebutuhan Search Engine Optimization (SEO), headline yang menarik, tone dan voice yang ditampilkan sesuai dengan audience dan klien yang diwakili, perlunya riset data, pemilihan style dan struktur tulisan yang akan dipakai, sampai keterampilan dalam berbahasa dan persuasi.

 

Lewat content writing, kita dapat menunjukkan identitas diri atau kelompok yang kita wakili dalam tulisan, meningkatkan traffic kunjungan situs. Mendorong pendapatan bagi yang menggunakan Internet sebagai alat usaha, dan tentunya untuk menjaga agar situs selalu up-to-date dan muncul dalam peringkat teratas SEO Google.

 

Adapun setiap peserta diminta membuat sebuah kelompok yang terdiri dari tiga orang, dan diberi contoh kasus yang berbeda. Seperti menjadi blogger yang pro Facebook, blogger yang kontra Facebook, agensi yang mendapatkan Facebook sebagai kliennya, dan agensi yang disewa oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika untuk memberikan pandangannya terhadap Facebook.

 

Setiap kelompok diminta untuk mempresentasikan hasil diskusinya untuk selanjutnya dituangkan dalam tulisan artikel. Sepanjang tiga ratus kata dengan headline yang menarik yang dibuat individu dan langsung diberikan feedback oleh instruktur.

 

Dengan segala kebutuhan dan aktivitas yang semakin ingin cepat dan praktis. Menjadi tantangan tersendiri bagi penulis konten untuk mempertahankan engagement pembaca. Sehingga tulisannya bisa dikatakan berkualitas dan dapat memberikan kesan serta pesannya pun tersampaikan.

 

Practice makes perfect, bukan sekadar jargon yang ditemui pada setiap bagian bawah buku tulis kosong saat sekolah dulu. Melainkan harus diaplikasikan dengan sungguh-sungguh. Apalagi jika ingin menjadi penulis konten yang kompeten dan bernilai jual tinggi.

 

[Oleh: Aninda Pradita]

52 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Bagikan :