Bagikan :

[Oleh: Zahra Haifa]

Pada kesempatan kali ini saya akan sharing mengenai hal-hal yang saya pelajari dalam konferensi Digital Bussiness di Menkominfo, pada 23 Mei 2017 kemarin. Acara ini diselenggarakan Asosiasi Pebisnis Online Indonesia yang di-support oleh Menkominfo, menghadirkan beberapa speaker handal di bidangnya, dan diikuti oleh banyak pengusaha online, pegiat UMKM, para digital marketer, dan umum).

E-commerce di Indonesia tumbuh begitu pesat seiring lumrahnya penggunaan gadget di setiap generasi. [Electronic commerce atau e-commerce adalah penyebaran, pembelian, penjualan, pemasaran barang dan jasa melalui sistem elektronik seperti internet, televisi, atau jaringan komputer lainnya.] Berdasarkan data Perbankan, total transaksi online di Indonesia ditaksir sudah mencapai Rp. 359 triliun di tahun 2016. Satu-satunya cara agar bisnis kita dapat bertahan di era digital adalah dengan masuk ke bisnis online., dan bagaimana dunia penerbitan memainkan peran dalam pasar e-commerce ini?

Menurut situs Perpustakaan Nasional Indonesia, dunia penerbitan merupakan industri informasi paling tua di dunia, bahkan seumur dengan peradaban manusia. Perubahan zaman membuat industri penerbitan semakin variatif dalam menerbitkan terbitan dalam berbagai macam bentuk, seperti pada saat ini perkembangan teknologi informasi melahirkan varian baru dalam dunia terbitan yaitu digital publishing atau elektronik publishing. Mungkin, banyak orang bertanya-tanya apakah pasar buku fisik akan redup dan menghilang seiring peningkatan tren apps dan transformasi digital, dimana semua kebutuhan kita bisa diakses melalui ujung jari saja?

Jawabannya tidak.

Faktanya, dunia penerbitan justru meraih tempat nomor lima terbesar peraih pendapatan omset tertinggi dari seluruh sektor e-commerce (dari total 16 sub-sektor). Bahkan mengalahkan sektor industri iklan dan perfilman. Pasar tidak menghilang, pasar tetap ada hanya sudah bertransformasi dari cara offline ke online. Dunia penerbitan dituntut untuk terus memproduksi dan menawarkan produk intelektualnya secara kreatif.

Dalam dunia penerbitan, dengan memanfaatkan layanan digital (terutama dalam inovasi produk dan strategi digital marketing), kita dapat berinteraksi langsung dengan para pembaca, kita bisa mendapat masukan dan mengerti apa yang target market atau pasar inginkan. Beberapa benefit jika kita berhasil mengefektifkan penggunaan tools digital ini, yakni marketing menjadi efektif dan efisien, sekaligus meningkatkan kepuasan pelanggan (dan juga meningkatkan omset kita tentunya.)

Namun, tidak dapat dimungkiri bahwa proses menuju transformasi digital di Indonesia masih cenderung lambat. Lima hambatan transformasi digital terbesar menurut para pelaku bisnis adalah: (berurutan dari hambatan terbesar hingga terkecil)

  1. Masalah keamanan dan serangan siber
  2. Kurangnya tenaga kerja yang memiliki keahlian digital yang mumpuni
  3. Tidak adanya mitra teknologi yang tepat
  4. Tidak pastinya lingkungan ekonomi, selera pasar yang dinamis
  5. Kurangnya kebijakan pemerintah dan infrastruktur teknologi informasi dan komunikasi yang mendukung

Pasar digital sangat menuntut adanya proses kreatif dalam perumusan produk. Hal ini berlaku bagi semua sektor bisnis. Dalam halaman berita di liputan6.com yang saya baca, Hermawan Kertajaya (Founder MarkPlus, Inc) mengatakan bahwa kunci memenangkan persaingan adalah dengan terus-menerus memunculkan atau menciptakan perbedaan (diferensiasi). Menurut beliau, kejenuhan akan produk tertentu menggambarkan terjadinya kelebihan pasokan (over supply). Perbedaan inilah yang dinilai menjadi kunci persaingan di era digital.

Berdasarkan demografi, Indonesia memiliki kelas menengah yang cukup besar, artinya masyarakat jenis tersebut memiliki kekuatan daya beli. Tapi, itu saja tak cukup. Menurut pak Hermawan, para pebisnis pun perlu memperhatikan psikografi atau kepribadian konsumen.

Kesimpulannya yang saya dapat adalah adalah, bagaimana strategi para pebisnis untuk masuk dan memanfaatkan tools digital secara optimal sangat memengaruhi kesuksesan dan keberlangsungan bisnisnya di masa mendatang. Jadi, apakah kita sudah siap untuk Go Digital?


Zahra Haifa
Editor Redaksi Dewasa
[Qanita | Kaifa | Pastel Books]

Facebook: fb.com/zahrabiogen
Twitter : @zahrabiogen

4,987 kali dilihat, 55 kali dilihat hari ini

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *