Hernowo Hasim Mengikat Makna

(sumber gambar)

Perkembangan digital, terlebih media sosial (medsos) atau social media (socmed), pada saat ini menjadi tantangan tersendiri sehubungan dengan minat membaca dan menulis buku. Kita lebih senang menulis di duniamaya: Facebook, WhatsApp, Line, Instagram, Snapchat, Path, Twitter, dan yang lain. Sering sekali kita menumpahkan segala sesuatu yang terjadi atau pemikiran kita di media sosial. Berbagai berita dan kabar pun bisa kita dapatkan dengan mudah di era ini; dari yang penting hingga hal sepele, bahkan kabar hoax pun kita baca. Tak jarang, dari socmed itu, banyak berita yang kita telan mentah-mentah.

Hernowo Hasim Mengikat Makna
(sumber gambar)

 

Kegiatan berselancar di media sosial juga menjadi tempat masuknya informasi yang beragam. Berbagai akun medsos seolah menjadi profesor yang tahu segalanya. Namun, jika hanya melihat sisi negatifsebuah perkembangan teknologi, tentu kita akan banyak tertinggal. Lalu, mengapa kita tidak memanfaatkan media sosialuntuk meningkatkan kemampuan dalam menulis dan membaca?
Inilah yang penulis lakukan dalam kelasnya di kampus. Beliau memanfaatkan Facebook dan e-mail untuk berinteraksi dengan mahasiswanya. Tugas perkuliahan dikirim via e-mail dan berdiskusi dilakukan lewat grup Facebook. Hernowo, penulis sejumlah buku tentang kegiatan membaca dan menulis ini, ingin menghilangkan tren copy-paste yang sering membuat mahasiswa terjebak dalam kemudahan tanpa melatih ide-ide dan mengeluarkan pikiran orisinalnya. Beliau mengajari dan melatih mahasiswanya untuk menyatukan kegiatan membaca dan menulis, atau mengikat makna.

Hernowo Hasim Mengikat Makna
Hernowo Hasim mengisi sebuah seminar
(sumber gambar)

Dalam buku “Flow” di Era Socmed: Efek–Dahsyat Mengikat Makna, Hernowo Hasim—identik dengan kata “mengikat makna”—mengatakan, terkadang kita masih terjebak atau terkerangkeng oleh pemikiran logis dan tertib. Pikiran yang terkerangkeng menghambat kita untuk mengembangkan ide-ide liar yang ada di otak untuk menulis dan membaca.

 

Untuk itu, ia menyarankan untuk mencari tahu pemahaman dan atau mengulang kembali apa yang pernah dibaca dan ditulis, lalu “mengikatnya” agar abadi. Kegiatan “mengikat makna” yang dimaksud adalah membaca sederet teks, kemudian menuliskan kembali pemahaman atas deretan teks yang telah dibaca tersebut secara bebas ke selembar kertas atau layar laptop, atau juga merekam suara yang berisi penyampaian kembali pemahaman tersebut.
Dalam buku inipun, dipaparkan tiga definisi kegiatan membaca yang baik. Pertama, membaca yang baik adalah kemampuan membaca yang di dalamnya terdapat kesigapan menemukan buku yang baik. Kedua, membaca yang baik juga berarti memanfaatkan kegiatan membaca sebagai kegiatan belajar. Dan ketiga, membaca yang baik adalah membaca dengan efektif. Yang terpenting, kegiatan membaca harus memiliki efek atau pengaruh terhadap peningkatan kualitas diri.
Jika dibandingkan, kita lebih banyak membaca dan menulis lewat gadget daripada buku. Dalam kegiatan menulis, terkadang kita terpatok pada outline dan susunannya. Padahal, seharusnya kita membebaskan pemikiran kita di ruang privat agar tidak ada beban dan tekanan ketika menulis. Untuk itu, seorang penulis tentu harus gemar membaca agar dapatmengeluarkan pikiran dan gagasannya dengan menarik. Lewat membaca,koleksi kata-kata baru yang beragam dan banyak akan bertambah.
“Ketika Anda membaca buku, carilah terus kata-kata baru sebab pengetahuan akan kata-kata baru yang Anda temukan dalam buku, sebenarnya merupakan salah satu cara mengolah otak. Bacalah kata-kata baru itu dan ucapkan secara keras, serta cari tahu maknanya. Tunggulah beberapa saat, saya yakin, otak Anda akan segera menyala.” – Taufiq Pasiak
Membaca sebenarnya bukan kegiatan yang mudah dan ringan, jika kita tidak memahami apa yang kita baca.Ini berhubungan dengan bagaimana kita memaknai kata, mengingat dan menghubung-hubungkan kalimat per kalimat, serta menyimpulkan semua hal yang sudah kita baca.Nah, dalam buku ini, penulis memberikan salah satu kiatnya, yakni mengganti persepsi itu dengan menganggap membaca tidak ubahnya dengan ngemil.

Hernowo Hasim Mengikat Makna
Hernowo di depan peserta seminar
(sumber gambar)

Membaca ngemil adalah membaca dengan cara memasukkan materi bacaan kedalam pikiran perlahan-lahan dan sedikit demi sedikit agar pembaca dapat merasakan sesuatu yang sedang dibacanya. Penulis layaknya seorang koki dan pembaca adalah orang yang menyantap “sajiannya”. Untuk dapat menikmati “masakan” itu, kita pasti akan mencicipi sajian tersebut lewat gaya penulisan, rangkaian kata, dan kosa kata yang mempermudah kita memahaminya.
Hernowo berpendapat, membaca adalah kegiatan melisankan gambar huruf yang bersusun menjadi kata, kata menjadi kalimat, dengan menyelaraskan pikiran, hati, dan penglihatan. Sedangkan menulis adalah menggambarkan ekspresi hati yang tampak pada gambar dan huruf melalui proses berpikir yang bermakna karena tulisan adalah tuturan lisan yang dicerna oleh indra mata. Tulisan rapi dan bersih akan menimbulkan rasa nyaman dalam membaca dan akan memberikan kesan tertentu.
Lewat buku ini, Hernowo Hasim memanfaatkan mengikat makna sebagai bentuk atau model yang membantu seseorang untuk membangun komunikasi efektif. Cara ini memang tidak menekankan pada kegiatan berbicara dan menyimak dalam bentuk langsung dan eksplisit. Mengikat makna bertumpu pada kegiatan membaca dan menulis sebagai cara memasukkan dan mengeluarkan sesuatu yang penting dan berharga dari pikiran.

Hernowo Hasim Mengikat Makna

Kegiatan mengikat makna juga dilakukan secara mengalir atau flow. Dengan membiarkan semua itu mengalir, tentu akan membebaskan kita dalam mengeluarkan semua pikiran dan gagasan, yang kita tuangkan dalam segala hal. Salah satu contohnya lewat menulis yang mengalir bebas (free writing).

[Oleh : ibn Maxum]

7,436 kali dilihat, 1 kali dilihat hari ini

Bagikan :
Tag pada: