1001 Masjid 5 Benua | Cover

[Oleh: Suhairi Rachmad]

Melakukan travelling ke lima benua memang tidak mudah. Kegiatan ini membutuhkan banyak biaya dan kondisi fisik yang ekstra sehat. Hal ini akan menentukan nikmat-tidaknya seorang traveller selama dalam perjalanan. Apalagi, ada sesuatu yang perlu direkam dalam kegiatan ini, semisal mengabadikan tempat-tempat bersejarah selama dalam perjalanan.

Umumnya, para traveller mengadakan perjalanan ke tempat-tempat wisata seperti pantai, gunung, danau, atau sejumlah pulau. Tempat-tempat tersebut dijadikan objek untuk diabadikan sebagai kekayaan budaya. Tetapi, Taufik malah menjadikan masjid sebagai destinasi perjalanan di lima benua. Ia mengabadikan rekaman tersebut dalam  buku 1001 Masjid di 5 Benua.

Taufik ‘berani’ mengabadikan objek wisata yang tidak dilirik traveller lainnya. Mungkin, muncul sebuah pertanyaan: Seberapa besarkah daya tarik masjid jika dijadikan objek wisata? Ternyata, kisah-kisah masjid di lima Benua hasil rekaman Taufik ini sangat beragam; mulai dari masjid yang menjadi markas teroris hingga masjid paling romantis. Betulkah ada masjid markas teroris? Atau betulkah ada masjid paling romantis?

Taufik memang tidak menceritakan secara detail masjid markas teroris tersebut. Pada Mampir ke “Markas Teroris” di Amsterdam ia lebih menekankan pada proses pencarian masjid di kota itu. Ia mengelilingi Amsterdam, ibu kota Belanda, untuk mencari Masjid Stichting El Tawheed atau Yayasan El Tawheed. Ia kaget ketika mendengar kabar tentang deklarasi pemerintah Belanda bahwa masjid tersebut sebagai “sarang teroris”.

Deklarasi itu dilakukan sebab pada 2004 terjadi pembunuhan Theo van Gogh, sutradara pembuat film anti-Islam, oleh pemuda bernama Mohammed Bouyeri, yang konon adalah salah seorang jamaah masjid ini. Peristiwa yang menggemparkan negeri Belanda dan disebut sebagai “Dutch September 11” ini membuat gerakan dan kegiatan yang diadakan di El Tawheed selalu dimata-matai pemerintah (hal. 20-21).

Masjid sebagai sarang teroris memunculkan stigma negatif di mata masyarakat. Ini bukan sekedar berakibat buruk pada pelakunya, agama Islam pun akan terkena imbas yang notabene agama penebar rahmat bagi seluruh alam. Secara realitas, gerakan teroris selalu mengakibatkan korban materi dan nyawa. Ketika terdapat masjid menjadi sarang teroris, gambaran yang muncul di benak pembaca mungkin sebuah deskripsi terbalik dengan nilai agama samawi yang dibawa Nabi Muhammad Saw.

Pada saat yang lain, Taufik juga mendatangi sebuah masjid yang terdapat di ibu kota Republik Tatarstan, yang merupakan salah satu republik anggota Federasi Rusia. Masjid ini bernama Kol Syerif Mechete atau Masjid Kul Syarif. Masjid termegah se-dunia ini berwarna biru dengan empat menara yang menjulang tinggi menembus langit kota. Dalam salah satu ruangan masjid in terdapat pameran souvenir, buku-buku Islam, video, dan busana muslim. Pada lantai di bawahnya terdapat Muzei Islamkoii Kultur atau Museum Budaya Islam yang memamerkan benda dan artefak tentang Islam yang umumnya berupa kaligrafi (hal. 120-121).

Deskripsi masjid ini lebih detail daripada deskripsi masjid markas teroris. Pembaca diajak menikmati bentuk fisik bangunan masjid di ibu kota Republik Tatarstan tersebut. Masjid ini bukan sekedar tempat melaksanakan salat dan membaca Al-Quran. Simbol-simbol keislaman lainnya juga diabadikan dalam sebuah ruangan agar pengunjung mampu menangkap perkembangan peradaban dari masa-ke masa.

Nah, yang paling membuat penasaran dengan isi buku ini adalah adanya masjid yang paling romantis. Masjid ini bernama Xiao Tao Yuan atau kebun kecil buah persik. Ini berbeda dengan nama masjid di Indonesia yang identik dengan nama Arab. Jamaah masjid ini berasal dari etnik Hui, Uighur, etnik Cina Muslim, Timur Tengah, dan Asia Tenggara. Masjid ini dibangun pada 1917 (hal. 197-199).

Ternyata, melakukan travelling ke sejumlah masjid yang tercatat dalam buku ini juga menarik. Apalagi, gaya bertutur dalam buku ini tidak mengalahkan deskripsi buku travelling ke destinasi wisata seperti pantai, gunung, danau, atau sejumlah pulau. Caranya bertutur seakan membawa pembaca memasuki setiap sudut ruang masjid yang ada di lima benua.

Judul Buku: 1001 Masjid di 5 Benua

Penulis: Taufik Uieks

Penerbit: Mizan, Bandung

Cetakan: I, Oktober 2016

Tebal: 256 halaman

ISBN: 978-979-433-971-8

Peresensi: Suhairi Rachmad

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *