Bagikan :

[Oleh: Iwan Yuswandi]

Dimanapun saya terperangkap atau menyeburkan diri dalam sebuah lingkungan, saya tetaplah seorang seniman yang tidak menyukai alat ukur.

Mengapa tiba-tiba saya menyebut “alat ukur”, ya memang minggu-minggu ini kami di Pelangi Mizan sebagai proyek percontohan, sedang sosialisasi sistem QPI (Quality and Productivity Improvement). Kelanjutan dari program besar perusahaan Mizan untuk membuat sebuah sistem kinerja karyawan yang terukur dan akurat. Sistem ini nantinya akan menjadi panduan penilaian setiap karyawan dari level bawah sampai atas.

Saat ini pula posisi pekerjaan saya ada dalam ranah yang sulit diukur karena pekerjaan kreatif sangat bersifat kualitatif. Sementara industri mau tidak mau menuntut kuantitatif. Tapi hari kemarin saya beruntung menemukan buku luar biasa, tergeletak di meja kerja teman saya yang baik hati, Pak Barhen. Kalimat pertama buku itu membuat saya tersengat dan mohon ijin untuk meminjam buku itu ke rumah. Ini buku yang membuat saya terhipnotis, tak sempat ganti baju dulu, hanya diselingi makan. Pertandingan timnas U-18 dibiarkan begitu saja walaupun sesekali saya melirik skor, dan sampai menit akhir indonesia menang telak 9-0 atas Filipina.

Buku yang berjudul Big Magic ditulis oleh Elizabeth Gilbert, terbitan Kaifa. Buku ini berkisah tentang bagaimana masa lalu Gilbert yang dipenuhi rasa takut sepanjang hidupnya. Rasa takut untuk melakukan sesuatu. Masa lalunya menjadi sangat membosankan menjadi anak yang serba takut. Namun dia beruntung karena orangtuanya bersifat terbalik dari anaknya. Kedua orangtuanya terutama ibunya selalu meyakinkan Gilbert adalah anak yang berani. Sampai pada satu titik menjelang remaja, ia bisa menaklukan rasa takutnya menjadi sosok penting dalam perburuan kehidupan kreatifnya hingga menjadi seorang penulis terkenal.

Big Magic Cover Terbitan Kaifa, Penerbit Mizan

Gilbert sangat piawai mengemas pengalaman kreatifnya, baik pengalaman sendiri maupun kisah-kisah orang lain yang inspiratif. Saya bisa mengecap tiga rasa dalam penyajian buku ini, imajinatif, kreatif, dan spiritual. Misalnya saat ia tidak mempercayai para ahli bahwa kreativitas hanyalah proses berpikir semata. Ia mempercayai bahwa gagasan itu ada diluar diri kita dan memenuhi alam semesta. Ada tapi tidak berwujud. Ini sangat spiritual. Gagasan akan mendekat pada seseorang yang mau mengerjakan sesuatu dengan sungguh-sungguh. Tapi gagasan juga bisa meninggalkan kita ketika kita mengabaikannya. Ini menurut saya perumpamaan yang imajinatif dan kreatif.

Gilbert menguatkan konsep itu dengan menceritakan kisah penulisan novelnya yang terinspirasi dari proyek ambisius pembangunan jalan yang melintasi hutan amazon di Brazil. Tapi proyek novel itu tidak tuntas, segala usaha risetnya tentang Brazil tertunda begitu saja karena masalah pribadinya hingga dua tahun. Pada episode berikutnya Gilbert kemudian bertemu dengan seseorang, sama-sama sebagai penulis dan kemudian saling mengagumi. Mereka lantas menjadi teman akrab dan sering saling berkirim surat. Di salah satu obrolannya Gilbert bertanya, proyek apa yang sedang dibuat temannya itu. Temannya bilang bahwa dia sedang menulis novel yang berlatar belakang Brazil. Gilbert penasaran karena dia juga punya proyek novel berlatar belakang sama. Ternyata ceritanya persis sama, tokoh utamanya sama, konflik ceritanya sama dan latar belakangnya sudah pasti sama.

Inilah yang disebut BIG MAGIC, keajaiban besar. Gilbert makin percaya bahwa gagasan itu harus dipelihara. Gilbert menceritakan betapa sulitnya dia bangkit untuk meneruskan proyek yang sudah tertunda dua tahun lamanya. Gagasan itu pergi meninggalkannya, mencari manusia lain yang mau merealisasikannya dengan sungguh-sungguh. Dan gagasan itu lebih mempercayai temannya yang baru ia kenal. Padahal Gilbert tidak pernah menceritakan proyek novel itu.

Pesan Gilbert adalah kesungguhan memegang perjanjian kontrak dengan gagasan. Itulah kehidupan kreatif, tidak ada alat ukur, sebab kreativitas tidak perlu izin apapun kecuali komitmen kita terhadap gagasan itu. Ini bukan mengenai gagasan berkarya seni, tapi sikap mental kita dalam mewujudkan gagasan baru yang menjadi kodrat manusia, yang menjadikan kita pemenang dari seleksi teori evolusi. Tapi menemukan kehidupan kreatif selalu dihantui rasa takut untuk mewujudkannya. Bagi seniman, salah satu rasa takut itu adalah alat ukur, sebab seniman selalu merencanakan hidupnya seperti perjudian. Gilbert mengingatkan, jadikan rasa takut itu sebagai teman agar kita hati-hati. Biarkan dia mengikuti kemanapun kita pergi untuk mewujudkan gagasan, tapi jangan suruh dia membuat keputusan.

Wallahua’lam

Iwan Yuswandi

(Desainer / Konseptor Produk Direct Selling Pelangi Mizan)

10,960 kali dilihat, 179 kali dilihat hari ini