Selama beberapa hari terakhir ini, saya tenggelam dan tercekam membaca terutama bagian-bagian introduksi penting dan krusial dari Prospektus, bagian-bagian awal Jilid I, dan bagian-bagian Lampiran dan Suplemen dari Jilid III The Message of the Quran karya Muhammad Asad. I was spellbound! Sangat mungkin inilah eksegesis yang paling mencerahkan dari Al-Quran yang saya peroleh sepanjang hidup! Terima kasih tulus! Semoga Allah membalas kebaikan Mizan berlipat ganda dalam Kasih dan Ridha-Nya! Semoga terus berlimpah pulalah Rahmat dan Kasih-Nya kepada Muslim Utama bernama Muhammad Asad.

Anak kedua saya juga langsung tak bisa melepasnya. Dan anak keempat sudah dua tiga kali menanyakan kapan gilirannya. Sekali lagi, terima kasih tulus!

Penerbitan The Message of the Quran ini harus disebut sebagai sebuah penerjemahan dan penerbitan monumental, yang seperti kata Muhammad Asad, mustahil lahir tanpa CINTA!

—Mochtar Pabottingi, Peneliti


Cahaya Gemerlapan Al-Quran: Muhammad Asad & “Tafsir”-nya di Mata Murad Wilfred Hofmann

“Asad tidak berupaya memindahkan struktur terperinci dan irama linguistik yang ada pada bahasa Arab Al-Quran ke dalam bahasa Inggris, sebab hal itu merupakan usaha yang sia-sia. Alih-alih, dia memfokuskan upayanya untuk memproduksi dan menyampaikan berbagai lapisan makna yang terkandung dalam ayat Al-Quran itu melalui wadah gaya ungkapan bahasa Inggrisnya.” MURAD WILFRED HOFMANN, mantan Duta Besar Jerman di Timur Tengah, eks pejabat NATO, dan penerima penghargaan bergengsi Islamic Personality of the Year (2009) dari Dubai International Holy Quran Award

Kata-kata menarik Murad Wilfred Hoffmann, yang juga merupakan murid Muhammad Asad, tersebut saya temukan di “Bab Epilog”, buku jilid ketiga, The Message of the Quran karya Muhammad Asad yang terjemahan bahasa Indonesia (Mizan, Januari 2017)-nya diluncurkan belum lama ini. Kata-kata Hoffmann itu masih ada lanjutannya. Lanjutannya lebih menarik lagi. Mari kita simak:

“Juga, Asad—dalam sebagian besar terjemahannya—menahan diri dari godaan untuk memasukkan penafsirannya sendiri ke dalam batang tubuh teks terjemahan Al-Qurannya (yakni, dengan cara menyisipkan kata/kalimat tafsir di dalam tanda kurung siku, sehingga pembaca bisa membedakan mana tambahan teks tafsirannya dan makna teks terjemahannya—peny.). Namun, Asad mengulas berbagai kemungkinan terjemahan dari sebuah ayat yang sarat-makna (termasuk versi terjemahan harfiahnya—peny.) dalam catatan kaki, dan di sinilah dia mengungkapkan alasan untuk menjustifikasi pilihan tafsirannya.”

Apa yang saya kutip dan tunjukkan di atas sudah saya cermati nikmati di buku The Message of the Quran. Begitulah Tafsir Al-Quran ala Muhammad Asad ini. Sangat teliti, sangat cermat, kaya pemaknaan, dan teks wahyu itu benar-benar dibiarkan bercahaya dalam bentuk aslinya, sementara pendapat Asad (pendapat manusia) hanya beredar mengelilinginya. Wahyu itu cahayanya diperkuat oleh ketelitian dan kecermatan Asad lewat ungkapan-ungkapan bahasa Inggris yang tidak dipadankan.

Tidak dipadankan? Ya, ketika, misalnya, Asad ingin memindahkan makna kata “ghaib” yang dalam bahasa Indonesia sudah dijadikan kata serapan dalam bentuk “gaib” dan kita tahu apa makna kata “gaib” tersebut, Asad menuliskan dalam bahasa Inggris sebagai “that which is beyond the reach of human perception” (hal-hal yang berada di luar jangkauan persepsi manusia). Juga ketika memindahkan makna kata “alladzina kafaru” (orang-orang kafir).

Asad menerjemahkan “allladzina kafaru” sebagai “those who are bent on denying the truth” (orang-orang yang berkukuh mengingkari kebenaran). Dalam bahasa Indonesia, kita mengenal dan memahaminya dalam bentuk “orang-orang kafir” dan kata “kafir” sudah masuk dalam bahasa serapan dengan makna tertentu yang mencancap di dalam pikiran kita. Nah, edisi terjemahan bahasa Indonesia karya Asad ini mencoba mempertahankan pengertian yang disusun oleh Asad dan mengalihkan makna itu persis dengan pemaparan Asad dalam konteks bahasa Inggris.

Ketika Anda membaca—untuk memahami—terjemahan The Message of the Quran, Anda akan diperkaya dan diberi sebuah pemaknaan yang melimpah ruah. Apalagi jika pembacaan Anda kemudian disertai dengan “comparative reading”. Misalnya Anda membaca tafsir karya Asad ini bersama tafsir karya Ustaz Muhammad Quraish Shihab, Al-Mishbah, atau tafsir karya Buya Hamka atau yang lain. Maka Anda akan diserbu oleh cahaya makna kata yang luar biasa gemerlapan!

Siapa sesungguhnya Murad Wilfred Hoffmann? Sekali lagi, selain menjabat banyak jabatan penting, Murad Wilfred Hoffmann adalah murid Muhammad asad. Dia mengetahui secara terperinci kehidupan Asad, perjuangan, dan kelebihan-kelebihannya. Pandangannya tentang Muhammad Asad, yang kemudian dipakai oleh Penerbit Mizan sebagai “Epilog” edisi terjemahan The Message of the Quran, sangatlah tepat. Murad Wilfred Hoffmann mengukuhkan dan meneguhkan kepiawaian Asad dalam menerjemahkan Al-Quran ke dalam bahasa Inggris.

—Hernowo Hasim, Penulis, Trainer, & Penggagas Program Klinik Baca-Tulis


Alhamdulillah Pak Haidar (Haidar Bagir – Direktur Utama MIZAN, red.) dalam ulang tahun saya ke-65, tanggal 30 Juni kemarin, anak-anak dan mantu-mantu saya tanpa saya duga memberi hadiah istimewa berupa buku terjemahan The Message of the Quran: Tafsir Al-Quran Bagi Orang-Orang yang Berpikir, terbitan Mizan dengan pengantar Pak Haidar dan editor ahli Prof. Dr. Afif Muhammad, M.A.

Saya baru baca pengantar dan Surah Al-Fatihah serta awal Surah Al-Baqarah. Sungguh saya menemukan tafsir yang lain cara penyampaiannya dibandingkan tafsir-tafsir Al-Quran yang selama ini kita baca. Sungguh segala sesuatunya menjadi lebih “hidup” dan lebih mudah meresapinya. Tentu saya sebagai orang awam, sangat jauh pemahaman saya tentang Al-Quran, karena baru akhir-akhir ini agak sedikit rajin baca Al-Quran dan Tafsir-nya.

Mudah-mudahan dengan membaca buku Tafsir Al-Quran terbitan Mizan ini, semakin mendorong saya lebih mendalami Al-Quran yang penuh rahmat ini. Terima kasih kepada Pak Haidar dan Prof. Afif Muhammad serta semua pihak yang telah bertahun-tahun menyiapkan buku yang sangat luar biasa ini. Semoga Allah memberikan balasan yang setimpal di surga-Nya nanti. Aamiin Ya Rabbal Alamiin.

—Dr. Ir. H. Suharyadi, M.S., Mantan Rektor Mercu Buana Periode 1997-2010


Asad, dengan The Message of the Quran, seperti tak hendak membiarkan satu pun ayat Allah tak terpahamkan bagi akal manusia. Bagi yang tidak biasa, sebagian tafsirnya akan terasa seperti berupaya merasionalkan hal-hal yang tak rasional. Termasuk keajaiban-keajaiban para Nabi utusan Allah. Tapi, tak ada yang tak dia usahakan semuanya itu dengan dukungan entah kitab-kitab tafsir klasik, data-data historis, atau penjelasan dengan menggunakan ayat-ayat Al-Quran lain. Sehingga, kalau pun akhirnya kita tak setuju dengan tafsirnya, kita tak akan bisa menolaknya begitu saja sebagai tanpa dasar.

Lagipula, sebagian dari apa yang tampak sebagai inovasi Asad, sebenarnya sudah banyak juga disinggung para ulama atau ahli tafsir sebelumnya. Tapi Asad-lah penerjemah dan penafsir Quran yang tak ragu-ragu memasukkannya ke dalam suatu karya yang akan dibaca jutaan orang. Asad tak takut kontroversi. Sebelumnya kita hanya mendengar bahwa hurr ‘iyn itu bermakna bukan cuma bidadari, melainkan juga bidadara dan bahwa (maaf) penerjemahan yang terasa sangat grafis akan kata kawa’ib sebagai “perawan-perawan berdada montok” adalah salah (karena literalistik), dan harus diartikan sebagai perawan-perawan (perempuan-perempuan suci yang sebaya) sebagai penafsiran yang hanya mungkin lahir dari kaum modernis, kalau bukan liberal. Tapi, dalam Asad, pemahaman yang sebetulnya lebih masuk akal orang-orang yang berpikir itu, dia tampilkan sebagai pemahaman yang alami belaka. Dan memang sudah seharusnya demikian ….

Jika mau kita ringkaskan, Asad mulai dengan berusaha memahami dan menangkap “pikiran” Al-Quran (the mind of the Qur’an). Paradigma Al-Quran … sebelum masuk ke detail-detailnya. Dan ketika masuk ke detail, dia gunakan semua alat untuk membongkar berbagai medan semantik konsep-konsepnya. Baru setelah itu, dia menciptakan dialog (bolak-balik, hermeneutik) antara detail-detail Kitab Suci ini dengan “pikiran Quran” yang ditangkapnya. Suatu cara yang masuk akal, bahkan harusnya satu-satunya cara yang masuk akal, untuk mendekati makna yang dimaui Sang Pemfirman.

Saya bayangkan, bertahun-tahun Asad berusaha menjadikan dirinya seperti Al-Quran. Menceburkan diri ke kedalaman wahyu Yang Maha Tak Terbatas, persis sepertt firman-Nya: “Celupan Tuhan. Dan apa yang lebih baik dari Celupan Tuhan?!” Maka apa pun yang keluar dari Asad, mudah-mudahan adalah warna yang terbias dari Yang Memfirmankan-Nya. Memang, pada akhirnya, semua tafsir, sesungguhnya semua pemahaman tentang apa saja, harus bersifat eksistensial, dan bukan objektif saja. Sebuah tafsir, yang di dalamnya jarak antara subjek dan objek sudah diminimumkan, dan orang menjadi seperti apa yang hendak dimaknai. Betapapun kita sadar, sebaik apa pun, manusia adalah manusia. Yang terbatas. Bahkan terlalu kecil, lebih kecil dari debu, dibanding berlipat-lipat samudra ilmu-Nya.

Akhirnya, sikap kita adalah, Asad orang besar, Asad mufasir hebat. Tapi Asad bisa saja salah. Sedikitnya, kita bisa saja tak setuju pada sebagian pandangannya. Tapi akankah kita buang tambang emas ilmu Allah hanya karena kecampuran sedikit tembaga? (dan belum tentu juga itu tembaga. Jangan-jangan emas juga, hanya tertutupi tanah, dalam pandangan sebagian kita).

Buya Hamka pun memuji. Juga Pak Miftah Farid. Dan saya tahu, bukan berarti para guru besar itu setuju dengan semua isinya (saya pun tidak). Tapi setidaknya mereka tak ragu, bahwa ini karya besar. Dan sejak saya mengenal The Message of the Quran, saya tak pernah mendaras Al-Quran pakai yang lain. Tafsir lain tentu tetap perlu untuk melengkapi. Tapi tafsir yang satu ini seperti bisa membaca makna apa yang saya harapkan dari ayat-ayat Allah Swt.

Mudah-mudahan Allah Swt. selalu memberikan hidayah dan ‘inayah-Nya kepada kita, agar kita bisa memahami makna-makna wahyu-Nya, betapapun sedikitnya. Lalu, memberi kita taufik-Nya agar kita bisa hidup sejalan dengan apa yang dikehendaki-Nya. Yaa’ Aalim, Yaa Kariim ….

—Haidar Bagir, Penulis Islam Tuhan, Islam Manusia, Penggagas Gerakan Islam Cinta


Saya pernah terlibat diskusi panjang dengan Mas Ilham (tim editor The Message of the Quran) terkait makna satu kata di dalam Al-Quran. Waktu itu Mas Ilham lagi sibuk-sibuknya sunting The Message of the Quran. Saya sodorkan makna-makna kata tersebut dalam bahasa Arab (sayang, saya lupa apa kata yang ditanyakan itu). Sampai akhirnya kami sepakat untuk menerjemahkan kata tersebut sesuai simpulan diskusi kami.

The Message of the Quran berani mendobrak tradisi penafsiran-penafsiran Al-Quran. Saya sudah terbiasa membaca kitab-kitab tafsir klasik, dan menemukan keasyikan sendiri saat membaca The Message of the Quran. Dalam deretan literatur kitab tafsir sendiri, ada metode-metode yang berbeda yang disajikan oleh masing-masing pengarahnya. Ada yang pendekatannya bir riwayah (tafsir tekstual), seperti Ibn Katsir, Al-Thabari, dan lain-lain. Ada juga yang pendekatan tazkiyah nafs (gagasan penjernihan hati).

The Message of the Quran ini menghadirkan tafsir bir ra’yi (tafsir rasional), yang boleh jadi bagi sebagian kita akan mengalami keguncangan. Padahal, tafsir rasional juga pernah sama-sama dilakukan oleh para ulama terdahulu, seperti Zamakhsyari dengan Al-Kasyaf atau Al-Razi dengan Mafatihul Ghaib. Saya menikmati penafsiran kata demi kata yang dihadirkan oleh Asad. Tampak lain dan ada gagasan baru yang ingin diupayakan untuk dikenalkan kepada masyarakat modern, yang tentunya akan bisa lebih memahami penafsiran teks-teks Al-Quran secara logis. Misalnya, seperti dicatat oleh Buya Syafii Ma’arif, Asad menerjemahkan ungkapan ummatan wasatha, ayat 143 Al-Baqarah sebagai a community of the middle way (komunitas jalan tengah), tidak ekstrem ke kiri atau ke kanan, tetapi berada pada posisi tengah dengan doktrin tauhid yang tegas dan tegak. Umat Islam semestinya terus bergerak tanpa henti menuju posisi jalan tengah ini dengan kepala tegak sebagai tanda kepercayaan diri yang tinggi sebagai umat beriman dan berilmu.

Barangkali, closing statement-nya Asad dalam pengantar The Message of the Quran, yang juga dikutip oleh Buya Syafii dalam artikelnya, ini cukup menarik, “… saya sadar sepenuhnya bahwa terjemahan saya tidak dan memang sesungguhnya tidak mungkin ‘berlaku adil’ terhadap Al-Quran dan lapisan di atas lapisan maknanya: karena jika seluruh lautan dijadikan tinta untuk menulis kalam Tuhanku, pasti lautan itu akan kering sebelum habis kalam Tuhanku.”

—Yadi Saeful Hidayat, CEO Mizan Publishing


The Message

Mendengar kata The Message, ingatan saya langsung kembali ke masa silam, saat saya melihat film yang berdurasi 4 jam dengan judul yang sama (The Message), dimainkan oleh Anthony Queen dan Irene Papas. Film itu menceritakan tentang perjalanan awal penyebaran agama Islam, hijrah ke Madinah dan akhirnya perjalanan kembali ke Makkah yang melambangkan kejayaan Islam.

Dan akhirnya, 40 tahun kemudian, saya menerima The Message dari tangan seorang sahabat saya. Kali ini The Message (The Message of the Quran, red.) adalah tafsir Al-Quran yang ditulis oleh Muhammad Asad (terlahir sebagai Leopold Weiss).

Tentu saja tafsir ini bukan yang pertama kali saya baca, karena memang curiousity saya yang cukup besar untuk mengerti “the real meaning, history and background behind the words” dari ayat-ayat kitab suci kita.

Di situlah biasanya curiousity saya cukup stubborn dengan tidak hanya mencerna kata demi kata, tetapi juga mencoba mengerti the context behind the content, sambil mencoba mencari balance antara “Aqli” dan “Naqli”.

Faktor lain yang saya juga akan perhatikan adalah, the story telling, how the story will be told to the audience.

Saya mengerti bahwa kitab suci adalah “sungai kebenaran” yang tidak bisa dibantahkan oleh akal pikiran kita yang sangat sederhana ini. Tetapi tentu saja story telling akan memainkan peran yang sangat penting pada saat audience sedang melakukan pengembaraannya untuk mengerti makna dan latar belakang dari setiap ayat yang dibaca.

Dengan background itulah, saya mulai membaca lembar demi lembar dari The Message of the Quran.

Dan surprisingly (in a positive way), saya membuka lembar demi lembar The Message of the Quran ini secara “automatic”, dan kadang-kadang tak mampu menahan diri untuk ingin membaca lembar berikutnya.

Saya harus mengakui bahwa Leopold Weiss (yang sekarang menjadi Muhammad Asad) mampu merangkai kata-kata yang menarik perhatian kita sedalam-dalamnya.

Kemudian curiousity saya pun mulai muncul, dan seperti biasa saya menanyakan banyak pertanyaan dengan pertimbangan akal saya.

Muhammad Asad seperti memainkan peran guru yang sangat sabar (dan pintar) dan menerangkan (very patiently) kepada anak muridnya yang agak bandel (c’est moi, saya sendiri) untuk konsep-konsep itu. Penjelasannya begitu lugas, lengkap, dan sederhana serta mudah dimengerti. Misalnya pada saat Leopold menjelaskan tentang “life entity”, dan menerangkan tentang “nafs”, Leopold memberikan definisi dan batasan yang sangat jelas tentang jiwa, akal, pikiran, makhluk hidup, kepribadian dan personality.

Kemudian Leopold juga menafsirkan dengan menarik tentang bagaimana seorang manusia mempunyai kelebihan dibandingkan makhluk lain. Bahwa manusia mempunyai pilihan (untuk percaya dan mengabdi kepada Allah Swt. atau tidak, sementara makhluk yang lain tidak mempunyai pilihan.

Sekilas kita seperti merasa bahwa kemampuan (dan kekuasaan) untuk memilih itu adalah kelebihan (atau rahmat). Padahal akhirnya kita menyadari bahwa kemampuan untuk memilih itu ternyata adalah ujian yang mahaberat bagi kita, karena tentunya ada konsekuensi yang berat atas pilihan kita tersebut.

Kita mengerti, bahwa in the end of the day, quality yang kita punya itu ternyata adalah ujian berat. Misalnya harta, banyak orang yang tidak punya harta berkata “Begitu enaknya mereka yang punya harta”. Padahal ternyata harta yang banyak adalah ujian berat, apakah kita mampu memanfaatkannya dan membawa kebaikan bagi orang lain, atau justru membawa mudarat bagi orang-orang lain dan kita sendiri.

Wajah yang cantik (atau tampan), begitu banyak yang menginginkan, bahkan sampai operasi plastik, ternyata bisa menjadi bumerang bagi kita kalau kita tidak mampu menahan godaan, dan ternyata itu membuat kita terjebak dalam kemaksiatan.

Otak yang cerdas, kalau dimanfaatkan dengan baik akan membawa manfaat bagi banyak masyarakat. Tetapi bisa juga dimanfaatkan untuk menjadi psycopath atau malah menjadi public enemy yang “monstrous”.

Konsep anugerah adalah ujian ini digunakan oleh Leopold Weiss untuk menerangkan konsep poligami. Pada saat banyak orang beranggapan bahwa poligami (izin untuk menikahi lebih dari seorang wanita) dianggap sebagai kelebihan atau anugerah, Leopold men-challenge kita dengan menuliskan bahwa poligami hanya diperbolehkan untuk kasus-kasus luar biasa, dan poligami itu akan menjadi ujian yang luar biasa bagi kita (apabila kita tidak bisa berlaku “adil” kepada istri-istri kita).

Maka Leopold menutup bab poligami itu dengan menyatakan bahwa apabila lelaki tidak mampu melalui ujian yang berat itu (untuk bersikap dan berperilaku adil kepada beberapa istri), maka sebaiknya lelaki itu mempunyai satu istri saja. Kesimpulan yang sangat “dalam”.

Intinya, banyak sekali masalah-masalah yang tadinya rumit dan sulit dimengerti menjadi sesuatu yang positif dan mudah diterima oleh akal sehat.

Leopold mampu menjelaskan itu dengan jelas dan gamblang, baik itu masalah poligami, pengetahuan alam, hubungan antarmanusia maupun hubungan kita dengan Yang Maha Pencipta.

Terima kasih kepada Leopold yang sudah membukakan mata hati saya.
Dan terima kasih kepada sahabat saya, Sari Meutia, yang memperkenalkan The Message of the Quran kepada saya yang masih ingin terus mengembara meneruskan learning journey saya yang panjang.
Salam Hangat
Pambudi Sunarsihanto
(HR Director Perusahaan Multi-nasional, Career Coach & Mentalist, penulis Think Different, Act Differently)


Testimoni Irfan Amalee


 

Bagikan :
Tag pada: