Apakah kamu sering mengulang-ulang pemikiran yang membuatmu cemas?
Apakah kamu suka kesal jika melihat kaus kaki temanmu tidak sama tinggi?
Atau kamu selalu mengecek tempat sampah sebelum akhirnya membuangnya?
Jika iya, kamu bisa diindikasikan sebagai pengidap OCD.

Disadur dari Psychology Today, OCD (Obsessive Compulsive Disorder) adalah suatu kelainan mental yang membuat pengidapnya mengulang-ulang pikiran, perasaan, bayangan, dan sensasi (obsesi) yang tidak diinginkan, lalu melakukan berbagai hal untuk menanggapi pemikiran atau obsesi tersebut.

Perilaku ini sering disebut ritual. Ritual dapat mengurangi atau melenyapkan pemikiran obsesif untuk sementara waktu. Jika ritual tidak dilakukan, pengidap OCD akan merasa luar biasa cemas dan tidak mampu beraktifitas sehari-hari dengan nyaman. Hal ini bisa sangat mengganggu dan membuat risih orang-orang di sekitarnya.
Para penderita OCD sering kali menganggap orang-orang di sekitarnya tidak peduli akan perasaannya, atau bahkan memusuhinya. OCD sangat erat kaitannya dengan kecemasan (anxiety) dan salah satu kecemasan penderita OCD berkaitan dengan hal-hal yang berbau seksual dan lingkungannya.

Namun pada beberapa kasus penderita OCD, mereka akhirnya bisa menikah, bahkan memiliki keturunan.

Penerbit Turtles All The Way Down

Dalam novel terbaru John Green, Turtles All The Way Down di mana sang tokoh utama, Aza, selain pengidap anxiety disorder, juga pengidap OCD. Di novel tersebut disebutkan bahwa Aza jatuh cinta kepada pemuda bernama Davis.

Kemudian Aza melihat banyak kemungkinan buruk yang akan ditimbulkan Davis untuknya; seperti bagaimana jika kuman di tangan Davis membunuhnya sewaktu mereka berpegangan tangan? Atau bagaimana jika banyak virus mematikan yang ditularkan ketika menonton bioskop bersama? Walaupun Aza hanya tokoh fiksi, namun kisahnya sangat mungkin terjadi di dunia nyata.
Dilansir dari psychcentral.com, seorang konselor OCD di New England menceritakan kisah pasiennya yang mengidap OCD dan suaminya (yang tidak mengidap OCD) menjalani hari-hari mereka.

Nyatanya pernikahan keduanya berjalan baik, walau awalnya sangat sulit bagi sang suami untuk menerima fakta bahwa istrinya lebih memilih arahan dari sifat OCD-nya ketimbang dirinya dan anak-anak.
Namun di tahun-tahun berikutnya, segalanya menjadi mudah. Mereka bisa menjadi sebuah tim yang baik. Mereka tidak bertengkar satu-sama lain, melainkan melawan OCD.

Mereka juga rutin mengunjungi klinik konsultasi untuk mengurangi kecemasan hasil dari penyakit tersebut.
Penyakit OCD memang menyebalkan, namun tidak ada hal yang tidak bisa diatasi.

Seperti halnya Aza dan para penderita OCD lainnya yang bisa melewati segala macam jenis pergulatan batin untuk berusaha sembuh, berusaha hidup normal, dan memiliki pasangan.

[Penulis: Deby Nemo | Penyunting: Dy]

2,592 kali dilihat, 3 kali dilihat hari ini

Bagikan :