Bagikan :

[Oleh: Zahra Haifa]

 

Siapa Nouman Ali Khan?

Nouman Ali Khan adalah ulama muda yang populer di Amerika Serikat. Dia adalah founder sekaligus CEO Bayyinah, sebuah lembaga yang fokus pada kajian Al-Quran di Amerika Serikat. Nouman menjabat sebagai Guru Besar Bahasa Arab di Nassau Community College hingga 2006 ketika dia memutuskan untuk memilih Bayyinah sebagai proyek tetapnya. Sejak itulah, dia mulai mengajar ke lebih dari 10,000 muridnya melalui berbagai program dan seminar di berbagai negara.

 

Dengan dua juta pengikut di laman Facebook-nya dan lebih dari 21 juta penonton YouTube untuk saluran Bayyinah Institute yang dikelolanya, menjadikan Nouman sebagai cendekiawan muda paling berpengaruh di Barat. Bahkan, tahun lalu dia telah dinobatkan sebagai salah satu dari 500 Muslim berpengaruh di dunia oleh the Royal Islamic Strategic Studies Centre of Jordan.

 

Ikatan mendalamnya dengan Al-Quran menjadi inti dari pekerjaan dan fokus dalam pengajarannya, yang membuatnya bisa meraih perhatian dari jutaan Muslim dari berbagai negara. Saat ini, Nouman dan keluarganya tinggal di Dallas, Texas dan memfokuskan diri mengajar murid-muridnya, mengembangkan kurikulum bahasa Arab dan konten untuk Bayyinah TV.

 

Nouman Ali Khan menarik perhatian komunitas Muslim karena tema dakwah yang dibawakannya begitu khas. Dia menggunakan sudut pandang linguistik Al-Quran dengan pembahasan tema yang relevan dengan perkembangan zaman. Salah satu media dakwahnya adalah channel Bayyinah TV (dan YouTube) yang banyak memublikasikan ceramah-ceramahnya. Sejak tahun lalu, kedatangannya amat ditunggu oleh komunitas Muslim di Indonesia.

 

 

Ingin mengenal Ustaz Nouman lebih dalam? Berikut cuplikan hasil wawancara Nouman Ali Khan bersama tim Hadith of The Day:

 

T: Bagaimana praktik Islam memengaruhi karakter Anda secara keseluruhan?

J: Oh, jawabannya bisa kukatakan dengan mudah, karena hal itu membuatku optimistis dan optimisme itu mendorong kesabaranku di saat aku mengalami keadaan yang sulit. Aku memohon kepada Allah untuk membuat diriku menjadi pribadi yang lebih sabar dan bersyukur. Aku melihat setiap tantangan dalam hidup sebagai peluang. Aku tidak membiarkan kekecewaan, kata-kata atau kritik yang menyakitkan menjadi penghalang untuk melakukan apa yang perlu kulakukan.

Islam memberiku kebebasan untuk menerima kesalahan yang telah kuperbuat tanpa ragu. Aku pun tidak merasa malu untuk segera meminta maaf ketika berbuat salah (dan aku telah mengacaukan banyak hal). Islam pun telah memberiku kesempatan untuk melihat ‘gambaran yang lebih besar’.

Aku tidak dapat meremehkan sebuah nilai yang dimiliki orang lain karena mereka telah mengalami beberapa hal, mempertimbangkan hal-hal kecil yang mungkin tidak kuketahui. Semuanya adalah bagian dari rencana besar Allah. Bahkan, upaya sekecil apa pun yang dilakukan untuk Islam, harus diperlakukan dengan penuh penghormatan dan harus benar-benar kita hargai.

 

 

T: Saat ini Anda telah mendedikasikan seluruh hidup Anda untuk menyebarkan pesan Islam – entah melalui Bayyinah maupun kuliah yang Anda berikan. Apa, sih, yang menyebabkan perubahan ini?

J: Keputusanku untuk mengubah karierku adalah passion tersendiri bagiku. Aku telah berkarier di industri teknologi seperti orang-orang pada umumnya. Aku punya pekerjaan tetap (walaupun berpindah-pindah) sejak berusia 16 tahun. Aku benar-benar bersyukur karena telah menemukan pekerjaan di bidang teknologi selama tahun pertama kuliah S1-ku yang bisa mendanai pendidikanku.

Aku tidak ingin membebani orangtuaku dengan biaya kuliah, dan karena aku tidak berasal dari keluarga yang kaya raya, aku paham akan tanggung jawab yang ayahku miliki untuk membesarkan anak-anaknya, termasuk menikahkan ketiga saudari perempuanku. Aku bekerja karena ingin membantu keluargaku (dibandingkan menjadikannya sebagai sebuah kewajiban).

Pekerjaanku berjalan dengan baik, begitu pun dengan studiku. Namun, setelah memelajari beberapa kelas kajian bahasa Arab yang begitu menakjubkan untukku, timbul sebuah sentiemen yang sangat kuat dalam diriku:

 

 

Bagaimana bisa aku tidak merasakan (pengalaman bersama Al-Quran) seperti ini sebelumnya? Mengapa aku dan semua orang yang kukenal selama ini bisa tidak tahu dan menganggap remeh Al-Quran, bahkan cenderung terlalu menyederhanakan pesan yang dibawanya? Harus ada sesuatu yang kulakukan!

 

 

Aku akan membuat kisah panjang ini lebih singkat dalam wawancara ini. Setelah aku bertekad melakukan sesuatu untuk Al-Quran, aku pun mulai mengajar bahasa Arab dan memberikan khutbah dari satu tempat ke tempat lainnya. Kajian singkat yang kuberikan sesekali di mesjid lokal nyatanya sangat sukses, dan itu mengejutkanku. Aku lebih terkejut karena muridku sendiri dibandingkan yang lainnya.

Ketika aku memutuskan untuk mengambil lompatan besar dalam keyakinanku dan memilih untuk mengajar bahasa Arab sebagai, katakanlah, sebuah karier yang akan mendanai studiku terhadap Al-Quran yang akan kulakukan di kemudian hari, orang-orang terdekatku meresponsnya dengan skeptis. Mereka bahkan punya alasan yang masuk akal. Namun, aku sudah mantap dan percaya diri dengan rencanaku.

Rencana ‘bisnis’-ku telah dihajar di kanan-kiri oleh teman-teman terdekatku untuk lebih menyempurnakan strategi ini dan oleh karena rahmat serta karunia Allah-lah, aku terjun di sini.

 

T: Satu hal yang membuat Anda ‘bersinar’ dari da’i lainnya adalah usia Anda yang relatif muda. Apa yang membuat Anda mantap untuk memilih jalan hidup ini?

J: Pertama-tama, aku tidak menganggap diriku sebagai seseorang yang diperhitungkan. Lucu saat Anda mengatakan bahwa usiaku relatif muda karena aku merasa tua. Alhamdulillah saat ini usiaku menginjak 40 tahun dan aku adalah seorang ayah dari enam anak-anak yang hebat.

Sejujurnya, ketika aku melihat kilas balik dari keputusan-keputusan yang telah kubuat dalam hidupku, adalah satu hal yang sungguh menjadikanku sangat tidak bersyukur jika aku mengatakan bahwa ‘akulah yang memilih jalan ini’.

Titik balik dalam hidupku adalah ketika Allah, dengan segala cinta dan rahmat-Nya yang tak terbatas, memberkahiku dengan adanya beberapa sahabat karib yang menemaniku, mereka yang telah mengarahkanku dan membuatku menemukan beberapa guru yang berdampak  luar biasa dalam hidupku.

 

T: Katakanlah ada seseorang yang ingin kembali kepada Islam, ingin bertobat, namun mereka tidak tahu bagaimana cara untuk memulainya. Apa yang akan Anda katakan padanya?

J: Fakta bahwa mereka sedang membaca ini membuktikan bahwa sebenarnya mereka sudah memulainya. Bicaralah pada Allah dan ceritakanlah situasimu saat ini. Mintalah nasihat pada-Nya.

Dia akan mengantarkan seseorang kepadamu dan memberikan berbagai kesempatan ke dalam hidupmu yang tak kan pernah kau bayangkan sebelumnya. Percayalah karena aku sendiri telah mengalami hal ini.[*]

 

Dilansir dari: Interviews Nouman Ali Khan talks to HOTD

Jangan lewatkan untuk segera menyelami pesan indah Al-Quran dalam buku terbarunya, Revive Your Heart: Terapi Menyucikan Hati dengan Al-Quran di sini.

 

3,442 kali dilihat, 73 kali dilihat hari ini